AIKIDO IS A LANGUAGE

By Shoji Nishio (15 January 2004)

Di terjemahkan oleh Jan Max Bunzel

 

Di seni bela diri, teknik merupakan jalan untuk mengungkapkan suatu seni. Setiap seni bela diri melibatkan penyempurnaan teknik. Aikido pun demikian.

 

Begitulah, Mari kita coba berpikir bagaimana kita melatih teknik dan prinsip dari teknik tersebut. Keraguan biasanya akan muncul dalam pikiran, “Apakah teknik ini sudah benar saat kita melakukannya dan sama dengan teknik yang dilakukan dimasa lampau?”. Saya pribadi percaya bahwa teknik yang kita lakukan sekarang tidak sama dengan teknik di masa lampau. Oleh karena itu, saya melihat suatu alasan bahwa aikido memiliki prinsip yang berbeda dengan prinsip teknik bela diri Jepang masa lampau.

 

Dalam aikido, Kita mungkin tidak perlu menjelaskan cara bagaimana kita berlatih. Tapi, melalui teknik belajar kami, Kami menemukan jalan yang kami cari. Sejak saat itu, saat Kami membandingkan Aikido dengan seni bela diri masa lalu, ternyata cara untuk mengekspresikan teknik perlu suatu PERUBAHAN (Saya menggunakan kata  PERUBAHAN (change) tapi hal ini bisa diartikan PENGEMBANGAN (develop)).

 

Secara spesifik, hal ini merupakan perubahan lengkap dari suatu budo ‘mengambil’ menjadi budo ‘memberi’, dari konsep tabrakan (foolishness of collision) menjadi konsep penggabungan (richness of communion). Oleh karena itu, marilah kita coba melihat teknik aikido saat ini. Konon, teknik aikido saat ini yang digunakan dalam latihan melebihi ribuan teknik. Masalahnya, apakah para aikidoka rajin dalam penyempurnaan teknik dan memahami prinsip dari teknik itu sendiri?

 

Tak peduli berapa banyak teknik yang kamu pelajari, semua itu tidak akan bermanfaat jika aikidoka tidak memahami prinsip teknik yang sebenarnya.

 

Misalkan, cara kami melakukan teknik pegangan tangan  (graps, grap, hold tight) dan konsep dari Maai ( jarak antara penyerang dan yang diserang, red).

 

Semakin jauh saya melihat, keadaan saat ini makin banyak orang yang datang ke dojo dan melakukan teknik tanpa mempunyai keraguan dan kejujuran layaknya sebagai pemula. (Bagi saya itu bukan lah suatu latihan).

 

Saya tidak berfikir bahwa latihan budo itu baik jika kita hanya meniru dari masa lalu karena hal itu merupakan cara yang dilakukan di masa lalu. Namun, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa hal yang lampau tidak penting. Tentu saja hal itu penting, tapi orang yang kritis akan mengatakan “Untuk alasan apa kita belajar dari hal-hal masa lampau?”, seharusnya kita mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan masa sekarang. Menurut pandangan saya, untuk mengetahui hal-hal yang baru di perlukan pengetahuan tentang hal-hal masa lampau. Dalam mengembangkan aikido pun , prinsip teknik masa lampau yang disebut teknik tradisional (old techniques) juga diperlukan. Apa yang ingin saya tekankan adalah jika kita belajar budo hanya melihat teknik yang lampau maka budo tersebut akan berakhir tidak baik. Suatu budo yang  di ikuti jalan Kobudo (ilmu bela diri lampau , old martial arts) tidak dapat bertahan lama dan akan berakhir seperti kerang kosong.

Teknik budo tidak akan berguna ketika orang menjadi tua. Suatu saat mereka juga mungkin melakukan sesuatu yang berbahaya dan  menyebabkan kerusakan pada tubuh mereka.  Esensi teknik budo harus terus dikembangkan dan di perbaharui terus menerus.

 

Kemudian , mari lah kita melihat pada aikido yang memiliki metode latihan yang berbeda dengan budo lainnya. Aikido dikatakan memiliki lebih dari seribu teknik dan saya akan menegaskan dalam sebuah pukulan (stroke). Semua teknik pukulan dapat di hindari dengan langkah irimi. Irimi merupakan suatu gerbang untuk melakukan banyak teknik tergantung dari penerapannya  dalam setiap situasi dan di sini lah kita  menemukan makna dari Takemusu Aikido – Sebuah budo diciptakan.

Pada masa lalu, kompetisi sudah digunakan untuk menentukan mental dan tingkat penguasaan teknik seorang pemain seni beladiri. Saat ini, metoda kompetisi ini di terapkan dalam berbagai seni bela diri dan olahraga lainnya.

 

Hanya dalam Aikido , metoda ini tidak dilakukan. Mengapa ?

 

Untuk pertanyaan ini, saya tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan dari senior saya.

 

Umumnya, untuk memahami apa yang dikatakan oleh O-Sensei sangat lah sukar. Kata murid-murid terdahulu, ”Jika Anda memahami sepertiga saja dari penjelasan O-Sensei, maka Anda termasuk murid yang hebat”. Bertahun-tahun sebelumnya saya berada dalam keadaan seperti itu, hingga suatu hari saya akhirnya saya mengerti apa yang diberitahukan pada waktu itu.

 

Setelah 10 tahun O-Sensei meninggal dan sekarang ini saya sudah menggunakan kata-kata dari O-Sensei sebagai suatu petunjuk untuk mencapai pengertian aikido.

 

PERTAMA, Mengapa tidak dibutuhkan kompetisi dalam Aikido?

Karena, Aikido dilahirkan dengan sebuah tujuan yang berbeda dari bela diri masa lampau. Tujuan bela diri masa lampau adalah untuk mengambil (take), menindas (suppress), menghancurkan (destroy), dan membunuh. Aikido dilahirkan sebagai sebuah budo yang bersifat kasih – sebuah budo yang menunjukkan kepada lawan bagaimana ia seharusnya hidup dan berhasil dengan baik.

 

Dalam hal ini dibutuhkan perbandingan dengan seni bela diri lainnya. Setiap seni bela diri terus menerus memperdalam dalam sebuah teknik yang khusus saja. Sebagai contohnya, spesialisasi dalam pedang, tendangan, pukulan,  dan bantingan. Dengan kata lain, bela diri ini hanya mengetahui satu esensi dari budo dan untuk menguji kemajuan  diperlukan lah suatu kompetisi.

 

Tapi , dalam suatu perkelahian , bela diri tidak lah seperti itu. Kita harus menghadapi lawan hingga pertaruhan nyawa bukan lah sebuah kontes. Oleh karena itu, beberapa kompetisi seni bela diri (kecuali aikido) memiliki pandangan, metoda penilaian yang berbeda sesuai dengan aturan masing-masing.

 

Ini bukan lah tujuan saya untuk mengatakan bahwa kita tidak memerlukan kompetisi tapi sebagai gantinya, perjuangan sampai akhir hayat.  Hal seperti ini tidak bisa diterima oleh masyarakat modern. Oleh karena itu, beberapa orang yang hanya ingin mengetahui kekerasan dalam seni bela diri seharusnya menghentikan hal ini dan melihat sesuatu hal yang baru dalam seni bela diri (terutama saat berhadapan dengan lawan) dan jadikan lah kekerasan itu untuk  melawan diri sendiri.

 

“ Melawan diri sendiri” dalam seni bela diri artinya saat kita dapat mengalahkan dan menghancurkan lawan kapan saja tetapi kita memilih untuk tidak melakukannya . hal ini akan memberikan kesempatan lawan untuk melanjutkan kehidupannya.
Selain itu, untuk meningkatkan kemampuan ini , kita harus berlatih terus menerus, seperti melatih pikiran dan tanpa menghilangkan kekerasan sekalogus, dan hal ini dilakukan secara bertahap dengan waktu yang panjang.

 

Dalam teknik aikido diperlukan manifestasi Ki dan anda dapat mengatakan Ki sebagai suatu alat untuk refleksi. K adalah sumber kehidupan dan ini artinya menjadi sumber kreasi semua mahluk hidup. Kita tidak boleh menggunakan Ki untuk menyakiti orang lain. Dalam Aikido , hal ini dimungkinkan dengan menggunakan prinsip irimi issoku  untuk menghancurkan lawan secara cepat. Tetapi orang yang mengetahui bahwa menghancurkan lawan adalah suatu kebodohan maka ia akan memilih memberi kehidupan pada lawannya dan ini merupakan suatu tindakan yang mulia.

 

Teknik-teknik aikido yang digunakan untuk konfrontasi dengan lawan merupakan saat dimana kita di beri suatu tempat dan suatu kesempatan untuk merenung( soul searching). Saat itu terdapat satu-dua atau tiga kesempatan adlam suatu teknik dimana anda bisa menghancurkan lawan. Ini adalah momen untuk “merenung”

Dalam proses melakukan suatu teknik tunggal aikido, tidak peduli sesederhana teknik tersebut tapi esensi tiap teknik itu yang harus ditemukan. Inilahj sesuatu yang unik dalam aikido.

Kenyataannya membicarakan hal ini bertentangan dengan fakta dimana kebanyakan orang melanjutkan pukulan menjadi perselisihan hingga bertarung satu sama lain. Dengan teknik aikido pun setiap saat kita bersinggungan dengan lawan, kita dapat mengontrolnya.

 

Kedua kita mengawali latihan dengan pegangan tangan biasa ( taking hold in hand) di dalam beladiri modern, olahraga pertarungan modern dan olahraga yang menggunakan genggaman yang kuat hal ini tidak mungkin dilakukan.

 

Bagaimana orang yang tekun berlatih dapat mengerti maksud ini ?

Kebanyakan mereka hanya berlatih tanpa memahaminya secara keseluruhan atau mereka mungkin tidak memahami bahwa mereka seharusnya berlatih terus menerus.

 

Cara latihan dalam aikido yaitu pegangan pergelangan tangan merupakan manifestasi dari semangat memberi dan membimbing ( giving and guiding) ini merupakan metoda dalam aikido untuk menyadari ideologi “memberi dan membimbing” . Dan bahkan dari pandangan seni beladiri hal ini dapat memuaskan orang yang tekun dalam mencari ilmu beladiri.

 

Ini merupakan “sesuatu” dimana setiap orang di tempat saya memilikitingkat pengertian tertentu tapi hanya sedikit kemungkinan mereka yang mengetahui metoda latihan pertarungan . pada latihan budo genggaman kuat pada pergelangan tangan lawan merupakan hal yang penting untuk mengetahui hati dan pikiran lawan dan mengetahui saat yang “penting” ketika bersinggungan dengan lawan.

 

Perselisihan biasanya memberikan keadaan untuk tidak saling menyukai dan menyebabkan kehancuran tapi bagi mereka yang mengetahui bahwa penyelesaian perselisihan dapat dilakukan dengan cara mempererat rasa kasih maka hal ini bisa memberikan keadaan yang berbeda. Di kehidupan sehari hari komunitas antar manusia melahirkan cinta, persahabatan  dan kehidupan baru.

 

Di dojo aikido manapun tersedia pedang kayu ( wooden sword) tapi untuk apa pedang itu digunakan? Jika anda mengetahui bagaimana menggunakan pedang secara benar, maka prinsip arau esensi dari teknik pedang itu dapatkita gunakan dengan mudah untuk melawan taknik tusukan, teknik pukulan dan teknik tendangan dari olahraga pertarungan modern bahkan tanpa menggunakan pedang.

 

Seringkali dikatakan bahwa pergerakan tubuh dalam aikido adalah manifestasi prinsip pedang

 

Pedang luar yang biasa dijual, bertujuan untuk menghancurkan musuh. Pedang jepang berbeda. Pedang ini merupakan jiwa dan semangat dari orang yang membawanya. Hal yang terbaik ketika pedang meninggalkan sarrungnya ( the scabbard) tanpa menyakiti musuh atau melukai dirinya sendiri adalah saat dimana pedang telah di tarik dan kita bisa mengontrol apa saja.

 

Dalam teknik aikido kita mengekpresikan dengan tubuh- artinya dengan jiwa aiki dan prinsip pedang- tidak akan membuat musuh menyerah tetapi hal ini untuk memberi lawan suatu pengertian ( mutual understanding)

 

Dengan kata lain, aikido memiliki tujuan yang samasebagai bahasa antar manusia

 

Dengan pemahaman prinsip aikido ini, kita dapat mengatakan bahwa latihan di dojo merupakan latihan untuk memahami hati orang lain.

 

Teknik aikido berbeda dengan teknik seni beladiri lainnya. Dalam berlatih aikido secara benar, metode latihan dan metode teknik yang dilakukan dapat dilihat apakah mereka memiliki suatu pikiran yang bertujuan mencari kebenaran ( to seek correcteness)

 

Kebenaran itu dapat di ukur dengan cara mencari bersama suatu bentuk keharmonisan

 

Kesimpulannya, cara yang benar untuk berlatih dan belajar aikido hanya mungkin di lakukan dengan berbicara pada orang lain melalui “bahasa teknik” ( the language of technique)

 

Saya berharap orang yang berlatih aikido secepat mungkin dan sebanyak mungkin mampu berbicara satu sama lain dari hati ke hati dengan bahas “ teknik aikido”

 

 

Di sadur dari :  http://www2u.biglobe.ne.jp/ text no 4

Leave a Comment

Connect with Facebook