Shoji nishio (1927-2005) seorang jenius inovatif aikido

 

 Kaum muda sering kali digerakkan oleh tokoh heroik. Mereka ingin sekali menjadi kuat seperti tokoh pahlawan, akan tetapi karena kaum muda ini masih muda dan belum berpengalaman, jalan satu-satunya yang mereka tempuh ialah mengikuti jejak pendahulunya. Peniruan yang tidak kritis ini dianggap sebagai langkah awal kaum muda untuk menjadi seperti pahlawannya.

Jaman dahulu prajurit perang adalah sosok yang paling sering dianggap dan ditiru sebagai simbol pahlawan hal ini bisa terjadi karena kebanyakan Negara memiliki angkatan perang dan terlibat peperangan.  Sedangkan di dunia modern dimana pertempuran yang sebenarnya terjadi di bangsa-bangsa dunia ketiga ,  pelaku beladiri (martial artis) dimata kaum muda memiliki derajat layaknya seorang prajurit perang hal ini sebagai dampak mediamassa.

Jika kembali ke jepang jaman perang 1945 posisi pelaku beladiri menggantikan para prajurit /pahlawan dimedanperang. Berdasarkan gambaran ini shoji nishio salah satu pemuda jepang yang saat itu berumur 18 tahun memutuskan untuk berlatih judo, agar kuat seperti pahlawan beladirinya.

Beliau terlahir di distrikAomori1927. Nishio remaja pergi keTokyountuk bekerja tepat sebelum pecah perang kemudian ia bergabung di sebuah klub dojo lokal dengan tujuan meningkatkan kondisi fisiknya yang lemah. Setelah perang selesai, pelatihan beladiri itu menjadi sangat terbatas oleh keberadaan pasukan yang menduduki jepang dan  markas besar judo kodokan. Namun situasi itu tidak bertahan lama.

Lambat laun pasukan pasukan-pasukan perang dipulangkan dari jepang  dan kegiatan di kodokan pun berhenti. Sehingga Nishio mampu melanjutkan latihan judonya. Seiring latihan yang antusias dan keras nishio terus naik  tingkat hingga mencapai dan 4. Namun nishio tidak cukup puas dengan judo karena  adanya aturan yang menjadikan teknik seni beladiri  sebagai sebuah persaingan.

Sebagai lanjutan dari latihan judonya nishio berlatih karate pada akhir tahun 1940an dibawah asuhan yashuhiro konishi(1893-1983) yang terkenal. beliau adalah penemu aliran shindo jinen ryu. Nishio berlatih karate selama beberapa tahun sampai 1952 akan tetapi di karate ini dia menemukan keterbatasan-keterbatasan. Adaindikasi kuat terjadi untuk memodifikasi teknik tradisional karateOkinawayang membawa seni sebagai penyelarasan dengan bentuk budo modern seperti judo dan kendo yang telah menjadi cabang olahraga.

 

Seperti sudah menjadi takdir ada hubungan antara sensei konishi dengan pendiri aikido morihei ueshiba. Beliau yang eksis kembali sekitar awal 1930an aktif mengajar di kobukan, sebuah dojo yang baru dibangunnya. konishi sudah menjadi karateka dibawah arahan banyak master karate terkemuka seperti ginchin funakoshi , chokun miyagi, kenwa mabuni dan choki motobu. Konishi juga berlatih beberapa tahun dengan ueshiba yang di anggapnya sebagai artis beladiri terbesar yang pernah ia temui

Tahun 1952 salah satu instruktur senior di dojo sensei konishi bernama  sensei toyosaku sodeyama mengatakan kepada nishio muda bahwa ia telah bertemu dengan seorang beladiri yang seperti hantu. “saya kagum bahwa ada seseorang yang bahkan sensei sodeyama tidak bisa menyerangnya, itu adalah morihei ueshiba, lagipula saat saya pergi melihat  dan ingin bergabung dengan dojo aikido, saya justru diperintahkan untuk pergi, tetapi saya tetap melihat latihannya dan tak pernah kembali ke karate.

Nishio muda bergabung dengan aikikai honbu dojo yang hampir tidak aktif karena didorong oleh antusiasme sensei sodeyama. Saat itu di dojo hanya ada sedikit siswa serta dua keluarga yang terlantar akibat perang tinggal disana. Kelas pelatihan diajarkan oleh putra morihei ueshiba, kisshomaru dan koichi tohei. Pelatihan  terdiri dari teknik-teknik dengan intensi yang relatif sedikit  sementara setengah dari waktu latihan dikhususkan untuk teknik suwari waza dan hanya sebagian siswa saja yang menggunakan tatami. Nishio menggambarkan kondisi aikikai saat itu sebagai berikut :

“ tak seorang pun disana, saya datang mengayunkan pedang dan kemudian pulang. Kami sangat beruntung walau hanya berlima. Saat itu adalah saat orang jepang dilanda kelaparan, hanya orang yang fanatik dengan beladiri yang mau datang. Mereka yang datang adalah orang-orang yang  sudah berlatih judo dan karate tapi belum puas dengan apa yang didapat, mereka menginginkan sesuatu yang lebih dalam dari seni-seni tersebut sehingga setiap orang datang setelah mencoba yang lain. Bagi aikido pengalaman adalah tidak terbatas , tak ada ketertarikan tanpa sebab. Hingga kini ketika orang tahu tentang aikido kebanyakan dari mereka menjadi ragu-ragu. “

Sewaktu nishio bergabung di aikikai O’sensei Ueshiba menghabiskan waktu beliau di iwama  distrik ibaragi. Setelah satu setengah tahun penuh akhirnya nishio dapat melihat aksi tokoh legendaris tersebut untuk pertama kalinya. Yang membuat nishio sangat terkesan adalah teknik penggunaan pedang ueshiba yang secepat kilat. Meskipun  teknik beliau yang mengagumkan ueshiba tak pernah sekalipun memberikan penjelasan yang nyata atas apa yang beliau lakukan. Contohnya ketika nishio bertanya pada seniornya kegunaan pedang dalam aikido tak satupun jawaban yang memuaskan sehingga nishio memutuskan untuk mencari jawaban sendiri.

Nishio yakin aikido adalah teknik beladiri sejati baginya, disaat yang sama ia menemukan kekurangan pada metode praktik khususnya setelah kilatan pedang ueshiba yang luar biasa serta memperhatikan betapa kurangnya teknik pedang di kurikulum seni (art kurikulum)  untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan itu nishio berlatih iaido( muso jikiden eishin-ryu) kepada shigenori sano 10dan pada tahun 1955.  Kemudian bergabung dengan dojo ( shindo muso ryu) kepada takajishimizu(1896-1978) yang terkenal. Masing-masing seni ini memberikan pengetahuan cara penggunaan senjata dan pada gilirinya melengkapi latihan aikidonya, akan tetapi tak semua orang senang dengan kiprah nishio di seni beladiri selain aikido sejak teknik aikidonya sendiri mengarah ke bentuk yang unik. Sambil tersenyum nishio ingat perkataan koichi tohei  “Nishio tidak berlatih aikido, saya tidak tahu apakah ia melakukan judo atau karate  tetapi bukanlah aikido. Dia sendiri tidak tahu cara mengembangkan Ki”

Nishio juga merasa kecewa melempar di aikido yang relatif sedikit, termasuk di dalamnya iriminage, shihonage, dan kotegaeshi. Sedikit demi sedikit  nishio mengembangkan sendiri teknik inovatif pengulangan (repertoire inovativ), salah satunya yaitu teknik koshi waza. Teknik ini muncul berdasarkan latar belakang di judo. Dengan cara yang sama nishio juga menggabungkan atemi yang di desain dengan gerakan-gerakan pedang sistematis supaya mudah diatur dan  untuk dilaksanakan ………”tzukuri dan kusuzhi. Nishio juga menggabungkan pedang dan tongkat kayu dengan teknik tangan kosong  berdasarkan pengalamannya menggunakan pedang.

Meskipun agak berbeda dengan aliran utama aikido, nishio dengan cepat melewati tingkatan demi timgkatan hingga mencapai 5dan pada tahun 1958 hanya dalam waktu tahun. Ini bukanlah sesuatu yang mengherankan  di tahun awal berdirinya aikido. Banyak tokoh-tokoh penting aikido di tahun 1940an dan 1950an seperti  tohei , saito,  yamaguchi, hikitsuchi, dan banyak lagi yang secara kilat dinaiktingkatkan

Aktifitas mengajar

Menjelang pertengahan 1950an perkembangan aikido semakin mantap seiring dengan berdirinya banyak dojo cabang dan klub di berbagai universitas dan perusahaan. Nishio semakin sering mengajar aikido di luar namun makin jarang di dojo honbu. Di siang hari nishio bekerja di Japanis mint, malam harinya ia mengajar aikido di berbagai lokasi diTokyodan pinggiran kotannya. Jaringan dojo nishio mengajarkan metode-metode yang secara luas terlihat sebagai pembiasan dari kurikulum standar dojo honbu. Standar tersebut berdasar utama pada pendekatan kissomaru ueshiba dan koichi tohei, akan tetapi nishio membina hubungan baik pula dengan organisasi markas besar dan secara rutin ikut serta dalam pagelaran demonstrasi aikido dan event-event sosial. Sementara itu sang pendiri aikido dan putranya kerap hadir sebagai tamu di dojo jaringan nishio. Sewaktu nishio pensiun dari japanis mint 1980 beliau sudah mencapai 8 dan aikido, 7 dan iaido, 6 dan judo, dan 5 dan karate. Ini mensinyalkan era baru dimana nishio bebas mencurahkan waktu penuh di aikido. Aktivitas mengajar nishio tidak terbatas di jepang. Ia juga mengadakan perjalanan ke skandinavia,USA, dan beberapa Negara eropa khususnya perancis. Nishio mempertahankan jadwal mengajar yang padat dan aktif termasuk perjalanan rutinya selama 20 tahun, sayangnya kesehatan yang memburuk memaksa nishio membatasi aktivitasnya sampai pada tahun-tahun terakhir masa hidupnya.

 

 

Aikido nishio

Teknik

Teknik warisan nishio sangat unik walaupun teknik aikido morihiro saito juga memasukkan unsur pedang dan tongkat kayu namun yang dilakukan beliau hanyalah sebatas memelihara teknik senjata sang pendiri dengan sedikit modifikasi, sedangkan nishio justru menguasai hal-hal pokok beberapa senjata modern yang diambilnya dari banyak elemen disamping dari judo dan karate.

Dan ketika muncul sebagai aikido nishio berasal dari penggabungan elemen judo, karate, iaido, dan jo jutsu yang menjadi kerangka dan filosofi aikido dan untuk meningkatkan kemampuan teknik tangan kosongnya(taijutsu) nishio membuat variasi antara pedang dan tongkat kayu dan iaido.

Apa saja dasar dari sistem aikido nishio?

di dojo kami saya melatih cara memegang. berdiri dan mengayunkan pedang, tsuki dan posisi wajib(hanmen) dan yokomen.

Cara memegang , mengayunkan dan menyerang yang benar di ubah secara langsung kedalam bentuk atemi.aikido. Nishio menekankan konsep asas aikido pada dimensi fisik. Contohnya jika anda berhadapan dengan lawan ambilah posisi alami “ jika anda berdiri dengan benar dan alami anda bisa masuk kejangkauan lawan pada saat ia baru akan bergerak. Saat lawan bergerak anda sudah menang”

Dalam konteks social, posisi alami diibaratkan sebagai atau sama dengan menjaga keselarasan dalam percakapan sampai lawan bicara selesai mengungkapkan apa yang ia ingin katakan dan bukan dengan membantahnya.dengan tidak teburu-buru bertindak. Seseorang akan dapat mendengarkan dan mempelajari maksud dan keinginan orang lain sebelum menentukan sikap. “ manusia tidak boleh berkelahi mereka seharusnya saling mencintai dan melengkapi satu sama lain, dengan begitu mereka menciptakan dunia yang manusiawi.

Konsep penting  lainnya adalah mencocokan pernafasan dengan lawan. “di aikido kami tidak mengacaukan pernafasan lawan karena saat lawan mengatur nafas kamipun juga demikian. Pernafasan adalah kunci pokok penyatuan dengan lawan terutama dengan saat menggunakan pedang. Cara ini merupakan basis utama atemi nishio.

Meskipun atemi atau yang di sebut serangan preemptive sering kali disalahgunakan dalam aliran utama, Nishio sebaliknya menganggap ini sebagai kunci sukses aikido. “ bagi saya atemi adalah jiwa seni beladiri jepang. Atemi merupakan teknik menetralkan yang membiarkan lawan memperbaiki sikap dan mengembalikan kondisi lawan dalam keadaan semula.  Ketika nishio menerangkan penggunaan atemi dalam aikido dia mendemontrasikannya dengan gerakan-gerakan yang berkesinambungan  yang menunjukan teknik-teknik tersebut sering di jumpai sehari-hari. Sebenarnya tak terjadi kontak fisik untuk memberikan latihan praktek yang aman. Gerakan atemi  tersebut menetralkan pikiran dan badan lawan yang membuatnya tak dapat meneruskan serangan. Dalam aikido nishio mekanisme mencapai penyatuan dengan lawan sering kali melibatkan  separuh langkah (irimi issoku) . ini merupakan konsep kritis yang dicetuskan oleh sang pendiri aikido sehingga memungkinkan pengikut aikido terhindar dari ketidaksinambungan dan kontak fisik dengan lawan.  Dalam pembelajaran lebih lanjut kami menemukan bahwa full step (irimi) diartikan berlawanan dengan keinginan lawan serta menerapkan kekuatan yang berlawanan pula  dengan artian terjadi bentrokan fisik.  Di dalam interaksi sosial hal ini serupa dengan memaksakan kehendak atas keinginan diri sendiri dan mengabaikan hasrat orang lain. Sebaliknya teknik half step memudahkan penyatuan energy atau istilah sosialnya bertemunya dua pemikiran menuju kesesuaian.

 

Filosofi

Walaupun Tekniknya tidak meniru-niru sang  pendiri, Nishio sensei tetap menanamkan  dalam hati filosofi aikido sang pendiri. Salah satu dari beberapa konsep filosifi Ueshiba, keyakinan di aikido, adalah konsep yang menyatakan bahwa maksud (intent) dan gerakan lawan tidak berlawanan. Proses penyatuan energi justru terjadi pada saat pernafasan dan gerakan lawan diikuti, sehingga memberi kesempatan aikidoka menetralkan serangannya.  Dengan menguasai serangan, aikido menganjurkan pengampunan dan rehabilitasi (perbaikan) dan bukan melukai atau membunuh lawan.

Dalam konteks yang lebih luas salah satu tujuan nishio adalah mengembalikan seni beladiri jepang pada spirit aslinya . perbedaan antara spirit jepang dengan budaya barat sebagai berikut  menurut nishio “ asas dasar spirit beladiri jepang sangat berbeda dari spirit olahraga sekarang maupun prajurit barat. Spirit prajurit barat mencerminkan spirit olahraga jaman ini. Mereka bertempur untuk diri mereka sendiri atau untuk kehoramatan dengan mengorbankan segalanya ini bukanlah spirit budo jepang. Seorang samurai jepang berperang demi Negara dan masyarakatnya dan bukan untuk diri dan kehormatan sendiri. Dalam spirit budo jepang seseorang berperang bersama keluarganya demi masyarakat dan bangsanya  dengan spirit ini konflik akan terhindari. Sebaliknya jika anda berperang dengan untuk diri sendiri peperangan itu tidak akan pernah usai. Saat orang-orang yang berkata “aku mati untuk melindungi orang dari kematian“ bersatu konflik akan terhapus inilah spirit yang di cari di aikido.

 

Nishio terkadang memilih jalan yang kontroversial yang tidak meniru teknik pendiri namun lebih menyerap asas-asas pokok aikido dan mengangkatnya dalam konteks budaya sekarang, dengan keterkaitan sekarang ini teknik nishio berkembang terus menerus seiring dengan bertambah baiknya pemahaman teknik dan ketrampilannya. Oleh sebab itu aikido nishio agak mirip dengan aikido ortodoks yang dianut  oleh  honbu dengan pendekatan konservatif. “ budo harus selalu merefleksikan lingkungannya  jika tidak diperbarui dan bertambah kuat budo tidak akan berlaku.

 

Shoji nishio adalah salah satu penyumbang pemahaman paling kuat dan penyadur asas aikido kedalam interpretasi pribadi sedangkan filosofi Ueshiba berfungsi sebagai  suar  bagi tiap pemikiran dan tindakannya  dalam mengembangkan aikidonya yang unik.

“pemikiran o’sensei sangat hebat beliau membuat perubahan besar dalam aikido yang dulunya adalah seni beladiri mematikan yang tanpa pengampunan menjadi pengampun, pemikiran beliau ini merupakan perkembangan dari gagasan sensei  jigorokanoyang berbunyi efisiensi maksimum dengan usaha minimum dan satu lagi kesejahteraan bersama namun pemikiran o’sensei jauh lebih maju. Memaafkan , memberi dan memimpin adalah kata-kata sakral  beliau. Seni beladiri sebelum beliau lebih menekankan perampasan hidup daripada pengampunan.

 

Teknik resmi nishio

Untuk generasi mendatang nishio meninggalkan materi pendidikan dalam bentuk 9 seri video dan sebuah buku terbitan aiki news , video aikido terdiri dari 9 volume yang meliputi taknik gyakuhanmi, katatedori, aihanmi katatedori, shomenuchi, yokomen uchi, sodedori, ryotedori, dan katadori men uchi. Dalam kaset tersebut nishio  mendemontrasikan  penerapan pedang dan tongkat kayu. Dua video terakhirnya menampilkan bentuk-bentuk pedang

Selama bertahun-tahun nishio menolak gagasan menerbitkan buku tentang aikido karena tekniknya yang berubah-ubah. ”saya selalu berlatih dan bertanya sehingga saya tidak mencapai pendapat mutlak, jika anda menulis buku dan tiba-tiba meninggal dengan ketidakpuasan siapa yang akan meneruskan buku anda” .

Meskipun awalnya ragu nishio benar-benar mewujudkan bukunya berjudul aikido yurusu budo  pada tahun 2004, tepat satu tahun sebelum ia meninggal. Dalam kata pengantar nishio menuliskan alasan-alasan yang membuatnya berubah pikiran “ dengan semakin betambah tua dan meratapi kepergian guru-guru  seperti seigo yamaguchi yang sangat saya hormati sejak awal berkiprah di aikido dan juga morihiro saito yang telah membawa aikido kedalam bentuk yang paling murni saya pun mulai berpikir apa yang akan terjadi dengan aikido selanjutnya.

 

“aikido adalah budo, jalan beladiri yang berhubungan erat dengan jujutsu, suatu teknik beladiri . akan tetapi saya merasa aikido sekarang mulai kehilangan budoness dalam teknik-tekniknya. Hal ini membuat saya berpikir bahwa orang-orang mulai melupakan akar penting aikido.“

Aikido-yurusu budo adalah sebuah buku yang memuat pemikiran nishio dan kunci-kunci prinsipnya yang tercurah di aikido nishio. Teknik-teknik seperti  gyaku hanmi, aihanmi katatedori, sodedori, katadori menuchi, shomen uchi dan yokomen uchi serta versi-versi teknik tangan kosong dan cara penggunaan pedang dan tongkat dihadirkan dalam buku ini

 

Kesimpulan

Di sejarah aikido terdapat 10 atau lebih pelatih yang telah mengajarkan penghormatan universal terhadap skill mereka yang tinggi dan kontribusi penyebaran aikido dan diantara daftar nama-nama figur luar biasa yang telah meninggalkan jejaknya di aikido, shoji nishio adalah salah satu innovator teknik yang terkemuka serta pendukung  terkuat filosofi  ueshiba

 

 

Leave a Comment

Connect with Facebook