Naturalisme

 

 Jika anda bisa berjalan, anda bisa menguasai Aikido   (Ueshiba Morihei)

 

Natural

Pengertian natural secara simpel berarti alamiah. Sebuah sifat yang benar2 mengacu pada fitrah ataupun kodrat. Entah itu manusia, hutan, air, udara, matahari, dan seluruh alam semesta. Lebih mudah lagi jika kita ambil pengertian bahwa seluruh detail tentang manusia, pohon, air, udara, dan sebagainya, berjalan pada sebuah pola dimana dia tidak akan bisa keluar dari pola itu. Sesuatu yang menyangkut tentang kekhasan individu.  Manusia misalnya: tidak akan bisa keluar dari fitrah manusia yang diciptakan sejak awal. Bahwa kita jelas mempunyai banyak superioritas secara fisikal, atau mentally. Tetapi kita juga mempunyai banyak keterbatasan dalam berbagai hal.

 

Pergerakan

Seluruh makhluk, seluruh elemen dalam alam semesta ini mempunyai sebuah pola pergerakan yang fitrah. Pola yang sesuai dengan kodratnya yang bersama kelahiran entitas tersebut, hal-hal itu diikutsertakan.  Misalnya; sebatang pohon tidak bisa bergerak aktif, hanya bergerak secara pasif. Sebuah hal yang lumrah. Air diciptakan sejalan dengan gravitasi. Hanya bersifat mengalir dari ketinggian, ke tempat yang lebih rendah.  Air tidak akan bisa melawan kodratnya, karena ketidakmampuannya. Hal ini diliputi oleh pergerakan tempat berpijaknya sendiri dan juga pergerakan elemen lainnya.  Bumi, sebagai tempat berpijak, mempunyai pergerakan yang ditunjang gayanya sendiri yaitu endogen, dan estrogen yang berasal dari luar. Udara, atmosfer, bergerak bersama bumi untuk menyelaraskan keadaan. Jika atmosfer diam sementara bumi bergerak dengan kecepatan sekitar 115300 km/jam, maka akan terjadi tornado dengan kecepatan ribuan km/jam. Keduanya saling mempengaruhi dalam keselarasan geraknya. Dan hal ini juga mempengaruhi pergerakan makhluk yang berjalan diatas bumi.

Manusia sungguh tidak bisa lepas dari hukum pergerakan keduanya, yaitu atmosfer dan bumi.  Jika kita mengingat konsep tenchi, maka hal ini bisa dicerna. Jika manusia melakukan pose tenchi, ia harus ingat bahwa ia tak hanya menaik-turunkan tangannya,  ia harus mendeklarasikan bahwa ia menjadi bagian dari semesta, dan karena inilah ia harus kembali ke fitrahnya, dan bergerak sesuai fitrahnya.

 

Pergerakan manusia

Kembali pada kata-kata O’sensei diatas.  Sesimpel itukah? Pengertian yang dikandung adalah, bahwa berjalan normal adalah sebuah kodrat yang diletakkan pada manusia. Dalam postur yang santai dan alamiah. Lao Zi, penemu Taoisme mengatakan, “orang yang membebani langkahnya, tidak akan dapat berjalan jauh”. Entah ada maksud lain di dalam kata-katanya ataupun tidak, hal ini mengingatkan kita agar kembali pada kodrat kita dalam kelebihan dan keterbatasan kita.

Pergerakan yang berdasar kealamiahan? Konsep yang susah dicerna.. tidak juga. Semudah kita memahami kenapa postur kita jika berjalan dengan santai terasa enak dan nyaman. Memahami  dan berkomunikasi dengan tubuh kita sendiri adalah hal yang esensial.

Sun Zi, dalam karyanya, Sun Zi Bingfa (the art of war) mengatakan tentang pentingnya mengetahui  kemampuan kita sebelum peperangan. Berbagai kelebihan manusia bisa tercapai jika manusia itu sendiri mau memahami kemampuan dan keterbatasan dirinya sendiri.

Kita telah banyak menerima persepsi yang sedikit keliru tentang postur dalam beladiri. Kita mengira, harus memasang kuda-kuda yang terlihat kuat dan didorong ditarik tidak goyah. Yang dipukul tidak mempan, yang ditendang tak bergeming sedikit pun. Pose dengan posisi kaki rendah dan mengencangkan seluruh otot sehingga terlihat seperti batu. Jika seperti ini, cobalah untuk berjalan dengan pose yang tetap. Berapa langkah kah kita bertahan? Tidak bermaksud untuk menyalahkan. Tetapi kita kembalikan kepada hipotesis kita di awal pembicaraan. Postur dan pose manusia tidak akan bisa lepas dari kodratnya. Masukkan semuanya kesitu!. Pendapat yang dikemukakan O’sensei benar-benar tepat. Artinya, jika manusia bergerak dan berpose tidak sesuai dengan kodratnya, ia akan mengalami berbagai gaya dan pergerakan yang menentangnya. Tidak tanggung-tanggung, gravitasi, atmosfer, dan sebagainya. Jadi, terlihat kokoh tidak sama dengan kokoh.

 

ditulis oleh : Bomba Mahendra Sensei

Leave a Comment

Connect with Facebook