Aikido Jalan Keselarasan

Kata Pengantar

Berhenti sejenak untuk melihat apa yang telah kita lakukan, mengapa, bagaimana, dan berada di manakah kita selain sangat menarik juga sangat bermanfaat.

Menuliskan konsep-konsep Aikido setelah sekian tahun melakukannya memunculkan kembali banyak pertanyaan mendasar seperti misalnya: “Mengapa saya ikut Aikido?”, “Apa itu Aikido, kok bisa banyak alirannya?” atau bahkan: “Memuntir dan membanting orang kok bisa merupakan suatu kegiatan spiritual itu bagaimana, sih?”

Setelah sekian tahun kemudian, banyak pemahaman mengalami perubahan mendasar, menjadi semakin jelas atau juga menjadi membingunkan.

Ini merupakan hal yang wajar sejalan dengan perubahan fisik serta mental spiritual seseorang. Arahan Sensei-sensei dari Pusat pasti juga berperan penting dalam pemahaman baru tentang Aikido ini.

Apa yang dituliskan di sini ini adalah konsep pribadi kami dalam upaya memahami aikido yang sedemikian luas dalam kerangka sebagai kelengkapan persyaratan ujian Dan aikido.

Yogyakarta, awal Januari 1999

L. Lesmana

 

 

Seni perdamaian diawali dari dalam dirimu. Tempa dirimu dalam menjalani ilmu ini. Setiap orang memiliki jiwa yang dapat diasah, tubuh yang dapat dilatih dan jalan hidup baginya. Keberadaanmu disini tiada lain adalah untuk menyadari Keagungan yang ada dalam dirimu serta untuk menunjukkan pencerahan yang kamu dapatkan dari dalam. Kembangkan kedamaian dalam kehidupanmu sendiri dan lalu terapkanlah Ilmu ini pada siapa saja yang kamu jumpai.

O’ Sensei

 

meaning of aikido Aikido

Aikido terdiri dari tiga kata yaitu ai, harmoni, keselarasan lalu ki, spirit, inti yang menghidupi segala yang ada dan terakhir do, jalan dalam arti sarana maupun dalam arti aktivitas atau laku dalam bahasa Jawa. Jadi aikido adalah ilmu agar kita bisa selaras dengan alam semesta. Pembahasan masing-masing kata mungkin akan lebih membantu pemahaman ilmu ini.

 

Ai atau keselarasan

Dalam latihan aikido ada banyak unsur yang terlibat, antara lain: nage, uke, dojo (atau tempat latihan lainnya seperti di alam terbuka) serta alam semesta. Latihan keselarasan ini sudah barang tentu dapat dilakukan pada segala tataran atau dimensi.

Dari segi nage atau uke secara sendiri misalnya, karena manusia mempunyai beberapa unsur dari berbagai dimensi (rasa, niat, pikiran, gerak perbuatan/gerak tubuh), harmoni atau keselarasan dapat diupayakan terjadi atau dilatih pada berbagai tingkatan, misalnya:

 

Keselarasan antara pikiran dan tubuh / gerak perbuatan dan niat.

Untuk mencapai keselarasan itu kita harus menguasai gerakan-gerakan dasar ataupun wazanya terlebih dahulu sehingga kita bisa melakukan suatu waza tanpa ragu atau bimbang dan secara reflek. Banyak-banyak latihan merupakan syarat utama untuk dapat melakukannnya secara luwes , tegas, mengalir dan tetap seimbang, baru kemudian kita bisa mengharmonisasikan konsentrasi kita terhadap unsur lain misalnya tenaga, kecepatan dan niat. Disharmoni (ketidakselarasan) antar unsur harus dihindarkan dalam aikido agar seorang aikidoka jangan hanya mengandalkan tenaga saja tanpa keteguhan (mental & spiritual) atau hanya mengandalkan niat tanpa disertai kecakapan karena kurangnya latihan.

Latihan keselarasan antara nage dan uke juga dapat difokuskan di berbagai tingkat misalnya:

Penggunaan tenaga serangan uke (fisik) dalam waza-waza kokyu (kokyu nage). Penjinakan tenaga serangan uke dengan gerakan-gerakan tenkan (apabila uke mendorong) dalam katatetori shihonage, misalnya.

Dalam aikido, masing-masing harus menjadi nage dan uke secara bergantian. Di saat menjadi uke, seorang senpai juga harus mengikuti waza koheinya dan tidak boleh mengganjal, ‘mengetes’, ‘ngerjain’, dll sehingga kohei dapat menyelesaikan wazanya, mengulang dan memperbaikinya tanpa harus merasa gagal atau tidak mampu. Perasaan-perasaan sedemikian itu bisa menimbulkan frustasi ataupun rasa kurang percaya diri. Kohei belajar dalam suasana keberhasilan, suasana positif. Ia dapat mengulang dan memoles gerakannya hingga mencapai tingkatan yang dapat diterima. Pergantian peran ini, selain menambah percaya diri kohei (yang tidak harus selalu kalah) juga mengikis keangkuhan senpai serta merupakan metoda yang praktis, mempelajari dan mempraktekkan dibawah bimbingan langsung para senpai tanpa ada perasaan kalah menang.

Arah penyelarasan dalam aikido bisa berubah: pertama nage menyelaraskan gerakannya dengan serangan uke melalui tenkan (ura) atau irimi (omote) kemudian dengan aplikasi waza, gantian uke harus mengikuti nage misalnya melalui mae ukemi atau ushiro ukemi untuk menghindarkan cedera. Jadi aikido mengutamakan penyelarasan untuk penyelamatan, untuk keselarasan kehidupan dan tidak mengandalkan adu kekuatan secara frontal yang sering mengakibatkan cedera, luka, dan bahkan kematian. Aikido merupakan ilmu untuk hidup dalam keselarasan. Namun, walau biasanya harmoni antara nage dan uke harus selalu dijaga dan diperhatikan seperti misalnya dalam shomen uchi irimi nage atau katatetori sihonage dimana nage harus menyelaraskan gerakannya dengan kekuatan serangan uke, ada beberapa jurus (tidak banyak) yang agak menyimpang dari harmoni ini. Jurus-jurus gyaku ini antara lain seperti nikyo, yonkyo, hijijime.

Semakin banyak latihan, nage akan menjadi semakin peka terhadap arah serangan uke dan semakin bisa mengarahkan serangan uke untuk kemudian ia kendalikan agar uke gantian menyelaraskan dirinya dengan nage. Rasa familiar yang dihasilkan dari berulang-ulang latihan merupakan suatu kenikmatan tersendiri yang mampu menggantikan kepuasan fisik seperti misalnya dalam membanting uke dengan keras, kepuasan yang biasanya dirasakan oleh pemula. Semakin lama seorang aikidoka akan semakin menikmati gerakan-gerakan aikido yang sekian lama ia latih, walaupun itu hanya merupakan gerakan-gerakan sederhana seperti misalnya, kaiten undo, tenkan, ukemi.

 

Harmoni dengan dojo

Sebagai tempat latihan, dojo sendiri merupakan tempat yang pas untuk latihan penyelarasan dengan lingkungan. Etika yang diberlakukan di dojo, pengaturan alas kaki, cara duduk, urutan duduk, cara menghormat, dll. Harus dipatuhi sebaik mungkin.

Dalam hal waza, harmoni dengan dojo tampak misalnya dalam mengarahkan waza seperti kaiten nage. Nage harus memperhatikan agar uke tidak menabrak tiang, dinding atau teman latihan lain. Jatuh itu gampang, tapi jatuh dengan enak, dengan ukemi yang benar, menyatukan diri dengan matras atau tanah itu lain soal. Harus dilatih teknik serta sikap mental sehingga seseorang dapat menyatu dengan lingkungannya, menyelaraskan gravitasi dan arah laju tubuh yang jatuh atau menyelaraskan diri menggelinding dengan hampir tidak bersuara di matras, seperti ajaran pepatah kuno: seorang pemabuk tidak akan cedera apabila jatuh dari kereta (karena tidak menentang daya yang melempar dan menggelindingkannya meskipun belum tentu ia pintar ukemi).

 

Ki, inti dari segala kehidupan alam semesta.

Menyelaraskan diri dengan alam semesta, dengan inti kehidupannya (ki) ini, lebih sulit karena ia tidak bergerak, seolah tidak ikut apa-apa bahkan seolah tidak ada. Menyelaraskan diri dengan yang tidak kelihatan atau dengan yang diam lebih sulit. Namun kita harus melatihnya karena ini memang tujuan dari aikido. Seorang aikidoka harus selalu mejaga keharmonisannya dengan alam semesta. Tidak mudah, itu pasti. Namun inilah tujuan paling utama.

Mengharmoniskan berarti menyatu, meniadakan disharmoni yang bersifat negatif merusak.

 

Do

Perbedaan antara jutsu (seperti misalnya aikijutsu, jujitsu) dengan do (seperti misalnya aikido, judo) mungkin gampang dimengerti: satu menekankan segi beladiri dalam pertarungan sedangkan lainnya lebih menekankan seni mengolah kepekaan jiwa kita. Namun, bagaimana membanting atau melempar bisa berkaitan dengan kasih, itu lebih sulit dicerna pada awal-awal latihan.

Aikido merupakan satu seni beladiri yang diciptakan O’sensei setelah beliau mendapat pencerahan. Saotome, setelah mendapatkan pencerahan spiritual, kualitas wazanya secara fisik drastis menjadi lebih baik. Hal-hal itu menunjukkan betapa aikido sangat bernuansa spiritual.

Menanyakan apa dan bagaimana pencerahan itu seperti menanyakan bagaimana rasa apel? Cara terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan mengalaminya sendiri. Anggap saja kata jepang Do itu seperti do dalam bahasa Inggris just do it, sambil menunggu barangkali pencerahan datang. Seorang tidak dapat mabuk karena hanya berbicara mengenai anggur.

Aikido adalah suatu laku untuk menyelaraskan niat, tekad, kata dan perbuatan bukannya suatu pencapaian. Jalan ini harus terus menerus ditempuh meskipun pada tingkatan formal apapun.

Aikido, merupakan cara atau jalan yang kita pilih sebagai jalan hidup. Untuk menempa diri kita sendiri dahulu, sebagai latihan untuk menyatukan tekad, kata dan perbuatan, kemudian sebagai latihan untuk menyelaraskan diri dengan uke dan nage sebagai wakil orang lain, menghormati dojo sebagai lambang hormat yang layaknya kita berikan terhadap lingkungan dan semuanya itu, untuk melatih kita menyelaraskan diri terhadap alam semesta sebagai pernyataan hormat tertinggi kita terhadap Sang Pencipta.

 

Dua sensei dan tujuh rahasia Aikido

Selama latihan aikido, nasihat para Sensei, merupakan petuah yang sangat bermanfaat. Beberapa diantaranya yaitu:

Latihan harus dilakukan dengan serius. Antara mokuso pembukaan dan penutupan, yang ada dalam pikiran hanyalah aikido saja.

Orang bisa berlatih aikido “kosongan” atau dengan hati, kokoro, dan ki. Karena kemurahan alam, masing-masing pasti akan mendapatkan hasil dari latihannya.

Latihan harus dilakukan dengan serius, semaksimal kemampuan masing-masing.

Latihan harus dilakukan dengan sangat serius seolah menghadapi persoalan hidup mati. Gozo Shioda menjelaskan bahwa sikap seolah menghadapi masalah hidup mati inilah yang menyebabkan tidak adanya kompetisi dalam aikido, kompetisi selain sangat berbahaya hanya akan merendahkan spirit aikido.

Sebagai insan yang dibekali kecerdasan, kita harus selalu berpikir agar kita mengerti apa dan mengapa kita melakukannya atau tidak boleh melakukan sesuatu.

Demikianlah, 4 petunjuk Yahagi Sensei: latihan, latihan, latihan, dan latihan dan dari Sigekoshi Sensei: pikir, pikir, pikir merupakan  7 rahasia aikido saya.

 

Kesimpulan

Diawali oleh keinginan menjadi hebat: membanting musuh atau merasa puas bisa menerapkan kotegaeshi pada orang yang badannya lebih besar,; kepuasan fisik, sedikit demi perasaan senang lainnya datang menggantikan seperti misalnya perasaan saat menerapkan kaiten nage, kita ikut merasakan uke melakukan ukemi dan ikut merasakan kepuasan apabila ukeminya sangat mulus, seperti seorang pebowling merasakan bolanya menggelinding, menjadi satu dengannya, meloncat, meliukkan pinggul seolah dapat mengubah jalannya bola itu. Uke menjadi bagian nage, uke menyatu dengan nage, ada harmoni antara uke dan nage. Kepuasan fisik berubah menjadi kepuasan yang lebih halus, lembut. Namun untuk merasakan itu kita harus berulang-ulang kali melatihnya: kaiten nae, kaiten nage, kaiten nage terus sambil menyingkirkan musuh utama kita: kebosanan atau rasa sudah menguasai waza tersebut. Aikido bukannya sekedar ilmu mati namun mempunyai hati, mampu mengubah sifat yang mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh.

Aikido bukanlah ilmu yang bersifat destruktif juga bukan sekedar ilmu bela diri, namun lebih dari itu, merupakan jalan dalam arti sarana dan sekaligus  jalan dalam arti aktivitas atau laku dalam bahasa jawa. Aikido bersifat universal tidak hanya dalam bisa dipelajari setiap insan, namun, dengan sifatnya yang mempersatukan, membawa semua kepada yang paling hakiki: Alam Semesta.

 

oleh :

Laddy Lesmana sensei

One thought on “Aikido Jalan Keselarasan

Leave a Comment

Connect with Facebook