Sikap Mental

“Stance is the foundation upon which conflict can be built.”

Kuda-kuda/sikap adalah dasar terbangunnya konflik.

“Of course, since we are doing budo, we must take “mental stance”.

Tentu saja karena kita melakukan jalan beladiri, kita harus mengambil kuda-kuda/sikap mental.

– Shoji Nishio –

Alkisah, di Jepang ada seseorang samurai yang suka bertarung. Samurai ini menantang seorang guru Zen untuk menjelaskan konsep Surga dan Neraka. Tetapi, pendeta itu menjawab dengan nada menghina, “Kau hanyalah orang bodoh, aku tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk orang macam kamu!”

Merasa harga dirinya direndahkan, samurai itu naik darah. Sambil menghunus pedang ia berteriak, “Aku dapat membunuhmu karena kekurang-ajaranmu!”

“Nah,” jawab pendeta itu dengan tenang, “itulah Neraka.”

Dalam interaksinya sebagai mahluk sosial; benturan kepentingan, perbedaan pendapat, idealisme yang berseberangan merupakan contoh konflik nyata yang begitu mudah dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. Istilah harmoni yang senantiasa menjadi jiwa dalam jalan bela diri Aikido merupakan salah satu bentuk perwujudan ideal prinsip non-resistant atau ketiadaan konflik. Tetapi apakah prinsip itu begitu saja bisa tercapai tanpa suatu upayapun? tentu saja tidak. Benar jika dikatakan bahwa sebenarnya hasil dari konflik ditentukan jauh sebelum konflik terjadi. Dalam konteks bela diri hasil ini berupa “menang-kalah” dan dalam hal pertarungan nyata terkadang hasilnya bahkan berupa “hidup-mati”. Tetapi dalam kehidupan nyata, tercapainya perdamaian atau kesepahaman adalah hasil yang sejatinya menjadi keutamaan, dimana tidak ada pihak yang dirugikan. Bahkan jika pun kita menang atas suatu perseteruan, kita justru akan kehilangan sesuatu yang berharga seperti rasa hormat dan persahabatan dari pihak yang berseteru dengan kita yang dalam jangka panjang mungkin akan sangat berarti bagi kita.

Secara kontekstual hal ini memiliki hubungan terhadap kegelisahan beberapa praktisi Aikido terhadap pertanyaan “apakah teknik Aikido bisa diterapkan dalam konflik nyata”. Menjawab pertanyaan itu maka akan sangat relevan sekiranya menjadikan pernyataan Nishio sensei di awal artikel ini sebagai acuan dan sudah barang tentu lebih bijak, mengingat fungsi dojo sebagai tempat berlatih jalan bela diri inipun lebih sebagai media untuk menempa karakter dan mental alih-alih melatih kekuatan otot semata. Hal inilah yang uniknya justru dibutuhkan di dunia luar dalam kehidupan nyata. Di dojo, aikidoka berlatih dalam suasana yang menyenangkan, di mana pasangan berlatih kita adalah teman. Berlatihnya pun di atas matras yang aman dan nyaman untuk jatuh sehingga menjauhkan kita dari resiko cedera berat. Melihat realitas yang sangat bertentangan dengan kondisi pertarungan nyata tersebut, sungguh kurang bijak rasanya jika tujuan berlatih seni bela diri ini adalah semata untuk pertarungan fisik. Karena sejalan dengan bertambahnya usia, fisik seseorangpun akan mencapai batasnya.

Dalam beberapa kesempatan sering juga timbul pertanyaan seperti “jika Aikido bagus mengapa tidak dipertandingkan atau diikutsertakan dalam kompetisi beladiri full-contact seperti UFC (Ultimate Fighting Championship)?”, ini adalah pertanyaan yang bagus. Terhadap pertanyaan tersebut kita sebagai praktisi Aikido juga berhak mengajukan pertanyaan balik bahwa “jika UFC bagus, mengapa pesertanya tidak bertarung menggunakan pisau?”. Dengan dasar logika yang sama diharapkan tercapai pemahaman bahwa dalam kompetisi seperti itupun dinamika pertarungan akan segera berubah jika pisau memang benar-benar dilemparkan ke dalam arena. Anda akan melihat dua petarung terlatih harus segera beradaptasi dengan aturan yang sama sekali baru atau mati hampir seketika itu juga jika gagal beradaptasi. Analogi tersebut ingin menunjukkan bahwa ada perbedaan yang sangat fundamental antara pertarungan kompetisi dengan perkelahian jalanan. Maka dari itulah melalui Aikido kita diharapkan menjadi pribadi-pribadi yang mudah beradaptasi dengan lingkungan di mana kita berada. Hal ini juga senada dengan apa yang Nishio Sensei sampaikan terkait dengan jalan bela diri bahwa “budo harus senantiasa mencerminkan keadaan sekitarnya, jika tidak pernah memperbaharui dirinya dan berkembang semakin kuat maka budo tidaklah valid

Menurut Oxford Advanced Learner’s Dictionary, stance berarti way of standing (cara berdiri/kuda-kuda), attitude (sikap). Melihat adanya kontradiksi dalam pernyataan Nishio Sensei di awal artikel terhadap fakta bahwa kuda-kuda (stance) merupakan hal yang sangat mendasar dalam seni bela diri, membuat Aikido sangat khas dalam sifatnya sebagai jalan dan sistem bela diri. Tentu saja juga tanpa melupakan bahwa jalan bela diri ini lebih menitik-beratkan pada aspek Do (jalan) alih-alih berfokus pada aspek Jutsu. Timbul pertanyaan mengapa justru unsur “mental” yang ditekankan adalah karena begitu mudahnya manusia kehilangan kendali atas emosi mereka jika terprovokasi secara fisik – baik itu secara gestur tubuh maupun verbal – untuk terlibat ke dalam konflik. Apalagi secara alami gejolak emosi juga menimbulkan reaksi fisik seseorang. Begitu banyak kasus perkelahian yang berujung pada kematian sia-sia merupakan contoh nyata. Tidak sedikit dari kasus-kasus tersebut terjadi karena dipicu masalah-masalah sepele. Belum lagi contoh lain seperti kekerasan dengan menggunakan senjata tajam atau senjata api. Dalam hal ini terkadang jenis bela diri apapun kurang bisa menjamin keselamatan seseorang.

Apakah kemudian menjadi sia-sia untuk mempelajari jalan bela diri ini? Tentu saja tidak, justru semakin relevan untuk mendalaminya melihat kenyataan bahwa kita sekarang hidup dalam dunia modern yang sangat dinamis di mana tekanan-tekanan dan potensi konflik yang bersifat psikologis bisa muncul sewaktu-waktu. Jadi sikap mental kita sangat menentukan hasil dari konflik karena itu adalah cara kita mengkomunikasikan atau mengekspresikan suasana hati atau watak kepada orang lain. Aikido diciptakan untuk menghilangkan potensi konflik sebelum benar-benar terjadi. Hal tersebut merupakan keadaan ideal yang menjadi tujuan utama jalan bela diri yang sangat khas ini. Tidaklah mudah memang, tetapi bukannya tidak mungkin hal itu bisa tercapai. Hal yang terbaik yang bisa dilakukan adalah selalu berupaya untuk menghayati visi tersebut melalui proses berlatih teknik (waza). Penting juga untuk selalu melatih kewaspadaan, itu sebabnya ada konsep bernama Zanshin. Tetapi di atas itu semua, jikapun skenario terburuknya adalah konflik benar-benar terjadi tanpa bisa dihindari, maka ingat selalu satu bait dalam doka (puisi) O’Sensei ini, “Memisahkan diri dari keterikatan pada hidup dan mati serta memiliki pikiran yang menyerahkan sesuatunya kepada Tuhan, tidak hanya pada saat diserang tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari”.

Takjub melihat kebenaran yang ditunjukkan oleh sang guru akan amarah yang menguasai dirinya, samurai itu menjadi tenang, menyarungkan pedangnya, dan membungkuk sambil mengucapkan terima kasih kepada pendeta itu atas penjelasannya.

“Dan,” kata sang pendeta, “itulah Surga.”

Ditulis sebagai syarat memperoleh peringkat Shodan pada ujian kenaikan tingkat Yudansha Sho Hei Kan Janti Dojo Agustus 2014.

One thought on “Sikap Mental

Leave a Comment

Connect with Facebook