Saling Memahami dengan Bahasa Aikido

ruins-at-borsippa

Berdasarkan Kitab Kejadian di Perjanjian Lama, setelah peristiwa Banjir Besar (The Great Flood) di masa Nuh, umat manusia yang tersisa bermigrasi dari timur dan menetap di tanah Shinar (Mesopotamia) tidak jauh dari sungai Eufrat. Kerajaan pertama umat manusia didirikan dan Babel (Babilonia) menjadi pusat yang menyatukan umat manusia.

Di kota Babel itulah Nimrod (Namrud) tinggal. Nimrod merupakan putra dari Cush, cucu dari Ham, cicit dari Nuh. Nimrod merupakan raja pertama dan pendiri kerajaan setelah peristiwa Banjir Besar. Kekuasaannya mencakup Babel, Uruk, Akkad dan Calneh.

Nimrod bernafsu sekali menjadikan Babel sebagai pusat dunia. Untuk itu dia memerintahkan membangun satu menara besar dan tingginya menyentuh langit. Menara ini bukan untuk mengagungkan Tuhan, melainkan untuk memuliakan Nimrod sendiri dan menganggap dirinya sebagai Tuhan yang harus disembah.

Dalam versi Midrash – yang membahas tentang kisah ini – menambahkan bahwa para pembangun menara ini mengatakan,

He – God – has no right to choose the upper world for Himself, and to leave the lower world to us; therefore we will build us a tower with an idol on the top holding a sword, so that it may appear as if intended to war with God. (Tuhan tidak mempunyai hak memilih langit yang lebih tinggi untuk diri-Nya, dan menyerahkan dunia yang lebih rendah untuk kita; karena itu kita akan membangun menara dengan berhala di puncak memegang pedang, sehingga seakan-akan bertujuan menantang perang terhadap Tuhan.)”

Lambert Dolphin dalam The Tower of Babel and The Confusion of Languages berusaha mencari jawaban mengapa mereka membangun menara seperti itu. Akhirnya Dolphin membuat kesimpulan: demi keangkuhan dan kepuasan diri.

Pada akhirnya Tuhan melihat pembangkangan mereka dan menghukum mereka dengan mengacaukan lisan mereka sehingga umat manusia – yang pada awalnya hanya menggunakan satu bahasa – berbicara dengan bahasa yang berbeda dan membuat mereka kebingungan. Karena perbedaan bahasa yang banyak membuat mereka berselisih dan mengakibatkan pembangunan menara yang belum selesai tidak bisa dilanjutkan. Pada akhirnya umat manusia tercerai berai dan menyebar keseluruh penjuru dunia.

Tuhan membuat umat manusia berselisih dan tercerai berai tidak dengan perbedaan fisik, warna kulit atau ras, tetapi dengan menciptakan Kekacauan Lisan (Confusion of Tongues) yang menyebabkan bervariasinya bahasa di kalangan manusia – tercatat hingga 72 bahasa. Perbedaan besar antar suku maupun bangsa yang hidup berdekatan bukan dari warna kulit, mata atau rambut. Bila antar suku bangsa itu saling dibandingkan mungkin tidak bisa dibedakan secara fisik, tetapi hanya dengan perbedaan tata bahasa (grammar) dan kosakata – hanya dengan perbedaan dua hal itu saja – dapat menciptakan sekat penghalang yang menghalangi pemahaman antar umat manusia yang berkelanjutan hingga sekarang.

Sejak tercerai berainya umat manusia ke seluruh penjuru bumi – ‘hanya’ karena Kekacauan Lisan, umat manusia mulai mengenal konflik dan peperangan. Tercatat dalam sejarah manusia, peperangan antar suku bangsa di mulai setelah peristiwa ini terjadi. Mungkin benar perkataan seorang ilmuwan fisika yang bernama Albert Einstein yaitu,

Peace cannot be kept by force. It can only be achieved by understanding. (Perdamaian tidak bisa dijaga dengan kekuatan, hanya bisa dicapai dengan [saling] memahami.)”

Walaupun Albert Einstein adalah seorang fisikawan, tetapi pemikirannya mengenai kehidupan sangat relevan dengan kenyataan yang terjadi. Dari perkataannya di atas kita bisa mengerti konsepnya tentang perdamaian. Kekuatan (force) memang unsur penting dalam beladiri maupun pertahanan – baik pertahanan dalam tingkat personal, kelompok, nasional maupun internasional. Dalam semua seni beladiri juga mempelajari tentang penggunaan kekuatan tersebut. Sangat wajar jika sebuah Negara memiliki kekuatan bersenjata yang kuat dan disegani. Akan tetapi semua kekuatan itu bila tidak ada mutual understanding di antar pemilik kekuatan tersebut hanya akan menjadi kekutan yang merusak dan menghancurkan sehingga perdamaian tidak akan tercapai.

Dalam ilmu Manajemen, mutual understanding dapat tercapai dengan komunikasi dan interaksi yang baik. Media komunikasi yang umum digunakan manusia adalah bahasa. Dalam bahasan ini istilah komunikasi dan bahasa memiliki ikatan erat, bahkan cenderung kedua istilah ini bersinonim. Bahasa yang penulis maksud di sini tidak terbatas pada bahasa verbal – baik lisan maupun tulisan, tetapi juga meliputi bahasa non verbal seperti gerak tubuh, ekspresi wajah, penampilan – bahkan dalam konteks budo terdapat komponen seperti intensi, semangat, energi yang dipancarkan oleh pelaku komunikasi, dan hati (kokoro). Semakin banyak komponen bahasa di atas – baik verbal maupun non verbal, maka makin kaya informasi yang disampaikan sehingga kebingungan, ambiguitas atau kesalahpahaman dapat diselesaikan sehingga pesan yang disampaikan oleh pemberi pesan dapat diterima sempurna oleh penerima pesan dan mutual understanding dapat dicapai.

Dalam seni beladiri, teknik merupakan jalan untuk mengekspresikan suatu seni. Setiap seni beladiri melibatkan penyempurnaan teknik. Begitu pula Aikido. Berbeda dengan Kobudo (beladiri masa lampau), Aikido memiliki raison d’être (alasan keberadaan) yang kontras dengan Kobudo. Tujuan Kobudo adalah untuk mengambil, menindas, menghancurkan dan membunuh lawan. Aikido dilahirkan sebagai Budo yang bersifat kasih/memberi dan membimbing; sebuah budo yang menunjukkan kepada lawan bagaimana seharusnya hidup dan sukses – walaupun juga memiliki kemampuan untuk menghancurkan dan membunuh.

Latihan dengan saling mengadu dan mempertandingkan (clashing) melahirkan kebencian dan menyebabkan kehancuran. Tetapi bagi yang memahami latihan yang melatih kebersamaan dan persatuan (communion) – yang kita latih di Aikido – akan menumbuhkan rasa saling sayang (mutual love) dan melahirkan hal yang baru. Dalam kehidupan sehari-hari kebersamaan dan persatuan (communion) antar manusia melahirkan rasa sayang, persahabatan dan kehidupan yang baru.

Dengan menggunakan teknik Aikido, kita mengekspresikan tubuh kita – dengan berlandaskan prinsip Aiki – tidak untuk membuat lawan menyerah kalah atau bahkan terluka dan mati, tetapi untuk mencapai mutual understanding. Dengan prinsip dan semangat tersebut lalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari juga untuk memahami, memperkuat, dan berjalan selaras dengan unsur dalam diri, lingkungan dan alam semesta, yang selanjutnya mengantarkan kita pada pemahaman atas kehendak Tuhan yang tersirat dalam ketiga aspek tadi serta hidup dalam keselarasan dan sejalan dengan kehendak Tuhan.

Prinsip dan semangat Aikido – yang dibahas di atas – yang bertujuan mencapai mutual understanding memiliki fungsi yang sama dengan bahasa yang dipakai manusia untuk berkomunikasi.

Dapat dikatakan bahwa latihan di dojo dalam Aikido adalah saling berbicara dengan kokoro. Teknik Aikido dengan jalan ini berbeda dengan teknik beladiri yang lain. Latihan dengan metode dan teknik yang benar di Aikido diindikasikan dari kedua belah pihak yang mencari jalan yang benar dan jalan yang benar tersebut dapat diukur dengan pencarian keselarasan di kedua belah pihak. Diharapkan pada akhirnya jalan yang benar untuk berlatih dan belajar Aikido adalah ketika memungkinkan terjadinya komunikasi antar pihak dengan bahasa teknik. Dengan jalan ini orang-orang yang berlatih Aikido dapat berbicara antar sesama melalui kokoro dengan bahasa Aikido.

Bagi O Sensei, Aikido yang lebih lanjut dipahami sebagai jalan pelayanan untuk membangun keluarga dunia. Aikido bukan diperuntukkan bagi suatu negara atau pihak-pihak tertentu. Karena itu bahasa Aikido adalah bahasa universal yang mampu menembus sekat-sekat pembatas keberagaman bahasa di dunia. Apabila bahasa Aikido ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan skala yang lebih luas – tidak hanya dengan latihan teknik saja di dojo, maka akan mempercepat tercapainya mutual understanding, kebersamaan dan persatuan universal, melahirkan rasa sayang, persahabatan, serta kehidupan baru.

 Disusun sebagai syarat memperoleh peringkat Shodan pada ujian kenaikan tingkat Yudansha Janti Shoheikan Dojo Agustus 2014.

Referensi:

_____. Nimrod. http://en.wikipedia.org/wiki/Nimrod. Retrieved 2014-07-23

_____. Kidou Senshi Gundam 00: A wakening of Trailblazer. 2010. Sunrise Inc.

_____. Tower of Babel. http://en.wikipedia.org/wiki/Tower_of_Babel. Retrieved 2014-07-23

_____. Kejadian 11: 1-9. in Perjanjian Lama, Alkitab. Cetakan ke-109. 2011. Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta. p 9-10

Dolphin, L.. The Tower of Babel and The Confusion of Languages. 2012. http://ldolphin.org/babel.html.

George, J.M. and Jones, G.R.. Contemporary Management: Creating Value in Organizations. Fourth Edition. 2006. Mc.Graw-Hill Irwin. Boston, Burr Ridge, Dubuque, Madison, New York, San Fransisco, St. Louis, Bangkok, Bogota, Caracas, Kuala Lumpur, Lisbon, London, Madrid, Mexico City, Milan, New Delhi, Santiago, Seoul, Singapore, Sydney, Taipei, Toronto. p 416-421

Nasu, K. Record in Oblivion. in Kara no Kyoukai: The Garden of Sinners Volume 3. 2008. Kodansha. Tokyo. p 79-80

Nishio, S.. Aikido is a Language. http://nishikazeaikido.org/aikido-is-a-language. Retrieved 2014-07-25

Setiadi, I., Andoko, S., and Sugiarto. Aikido: Jalan Menuju Harmoni. Cetakan kedua. 2003. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. p 9-16

Steven, J. The Essence of Aikido: Spiritual Teaching of Morihei Ueshiba. First Edition. 1993. Kodansha International. Tokyo, New York, London. p 39-76

Leave a Comment

Connect with Facebook