“Go no Sen” – Jalan untuk Mengalahkan

Diterjemahkan bebas dari “Go no Sen” – The Path to Defeat

oleh Stanley Pranin

 morihei-ueshiba-enveloping-uke

O-Sensei memberikan kebingungan dan kelebihan beban sensorik dalam pikiran penyerangnya, kemudian secara sempurna mendominasi pertarungan.”

Istilah “Go no Sen” sering digunakan dalam seni beladiri Jepang sebagai bagian dari kerangka teoritis untuk menjelaskan kondisi tertentu dimana penyerang memulai sebuah pertarungan. Satu definisi dari “Go no Sen” dapat menjadi “untuk mendapatkan kembali tindakan awalan setelah diserang”. Memikirkan hal ini sejenak, apa yang harus tepat dalam situasi seperti ini?

Untuk memulainya, penyerang telah memilih timing, kondisi, arah dan intensitas dari gerakan menyerangnya. Orang yang menerimanya dipaksa berada dalam kondisi bertahan. Dalam sebuah serangan melibatkan gerakan cepat yang agresif, waktu yang tersisa untuk orang yang bertahan untuk merespon hanya dalam sepersekian detik. Untuk alasan ini, peluang orang yang bertahan untuk lolos secara aman sangat berkurang. Karena hal ini lah saya tidak suka mendeskripsikan Aikido sebagai sebuah “seni mempertahankan diri”.

Tentu saja praktisi beladiri yang belum terlatih jarang bisa terbebas dari alam “Go no Sen” dalam latihan mereka. Mereka belum bisa mengembangkan kemampuan merespon lebih awal, sebelum serangan datang. Mereka secara psikologis kewalahan dengan keganasan penyerang. Mereka bahkan tidak bisa mencapai tingkatan lebih tinggi dari kemampuan mereka yang bisa mereka nilai, dan tidak juga mengontrol dan menetralisir serangan sebelum terjadi manefestasi fisik.

Apakah tidak ada tempat untuk “Go no Sen” dalam latihan kita? Sebenarnya ada. Bahkan tidak bisa terjadi hal yang sebaliknya. Latihan dengan serangan yang direncanakan dan mempelajari mekanis dari teknik tertentu dibutuhkan untuk membangun kemampuan dasar. Namun sudah menjadi hal yang umum bagi praktisi tingkat lanjut dan instruktur untuk tidak mengambil resiko keluar dari pola pikir defensif tersebut. Saya percaya kita pada titik tertentu melampaui dimensi “Go no Sen” untuk mencapai potensi beladiri yang lebih tinggi.

Akhir-akhir ini, saya melihat video klip dari seorang shihan Aikido yang legendaris dan terkejut setelah memperhatikan bahwa beliau menanggapi serangan uke. Hal ini memungkinkan karena hanya karena serangannya dilakukan dengan lemah dan lambat. Pertunjukan seperti itu bisa terlihat bagus, bahkan mengagumkan, oleh pengamat biasa. Tetapi praktisi beladiri tingkat tinggi akan mengenali respon seperti itu tidak akan berhasil dalam skenario yang keras, khususnya yang melibatkan unsur kejutan.

Hal ini kontras dengan yang disampaikan oleh pendiri Aikido Morihei Ueshiba yang diperlihatkan dalam demonstrasinya, O-Sensei mengeluarkan tipuan, memberikan perintah verbal, memberikan tangan atau pundak, memindahkan berat badannya maju mundur, mengeluarkan atemi dan kiai, dll. Beliau memberikan kebingungan dan kelebihan beban sensorik dalam pikiran penyerangnya, kemudian secara sempurna mendominasi pertarungan. Untuk alasan ini, para pengamat sering berkomentar bahwa demonstrasi tersebut adalah adalah ‘palsu’! Saya mengira bahwa beliau mengatur situasi agar tidak ada serangan efektif yang bisa terjadi. O-Sensei ‘menyelimuti’ uke-nya dengan dimensi energi dimana tidak ada agresi yang bisa muncul. Uke secara psikologis dan fisik ternetralisasi.

Pikirkan tentang teguran O-Sensei pada serangan shomenuchi yang direkam dalam panduan latihan di tahun 1987 yang berjudul “Budo”.

“Mulai gerakan dengan memajukan kaki kananmu sembari dengan penuh semangat mengulurkan tegatana ke arah wajah partnermu, dan pada waktu yang sama berikan atemi ke sisi tubuhnya dengan tangan kirimu.”

Hal ini bukan deskripsi dari skenario dimana uke menyerang. Nage adalah inisiator dan menguasai uke dengan serangan bertenaga ke arah wajah bersamaan dengan pukulan ke rusuk. Hal ini mungkin tampak bertentangan dalam pemikiran sebagian besar praktisi Aikido. Saya menyarankan Anda untuk merenungkan hal ini secara mendalam dan mempertimbangkan implikasi jangka panjangnya.

Mendiang Michio Hikitsuki, Dan 10, menggambarkan jalur berpikir tersebut menggunakan kalimat ini:

“Saya selalu keluar lebih dulu. Saya selalu bergerak maju lebih dulu setiap waktu.

Saya memulai dan mempersilakan dia mengambil tanganku lebih dulu. Saya memulai dan mempersilakan dia memegangku.

Tidak pernah terjadi dia memegang saya lebih dulu, setelah saya memulai untuk memahami apa yang harus dilakukan.

Saya selalu keluar lebih dulu. Saya tidak boleh menunggu orang lain bertindak.”

Saya sangat percaya bahwa kesadaran akan keberadaan dari alam yang lebih tinggi dari keterhubungan dengan yang lain ini, dan bagaimana bisa diolah dalam latihan kita adalah kunci untuk mencapai tingkatan Aikido paling tinggi dari “Takemusu Aiki” yang merupakan warisan O-Sensei yang paling abadi. Untuk tetap ‘terjebak’ dalam alam “Go no Sen” merupakan awal dari jalan pasti untuk mengalahkan.

 

Sumber:

Pranin, Stanley. 2014. “Go no Sen” – The Path to Defeat. blog.aikidojournal.com/ 2014/06/18/go-no-sen-the-path-to-defeat-by-stanley-pranin. Retrieved 2014-12-07

2 thoughts on ““Go no Sen” – Jalan untuk Mengalahkan

Leave a Comment

Connect with Facebook