Sunao – Jujur Dalam Berlatih

Diterjemahkan secara bebas dari “Sunao – Being honest in training,”

oleh Stanley Pranin

 sunao-kanji

“Akhirnya Sensei berteriak, ‘Hentikan latihan bodoh itu!’”

Ketika saya berlatih di Iwama di bawah Morihiro Saito Sensei bertahun-tahun yang lalu, sangat sering beliau berkata seperti, “Sunao ni keiko shite kudasai” (Latihanlah dengan pikiran jujur) untuk menegur murid agar berlatih dengan tulus dan dalam semangat kerja sama. Hal ini adalah contoh kejadian ketika beliau melihat seorang murid menahan percobaan murid lainnya untuk mengeluarkan sebuah teknik menggunakan pengetahuan sebelumnya tentang teknik yang sedang dilatih tersebut

Mari beranggapan bahwa kita sedang berlatih tai no henko. Saya mengetahui bahwa nage itu akan maju keluar sambil merentangkan lengannya di depan center­-nya. Alih-alih sekedar menggenggam tangannya dengan kuat, saya mengangkatnya dengan paksa untuk mencegah dia dari berputar dan mengeksekusi teknik. Apa yang saya telah lakukan hanya mengambil keuntungan dari kondisi latihan yang sudah dirancang sebelumnya untuk menggagalkan percobaan nage untuk mengeluarkan teknik. Saya tidak ”sunao” atau jujur dalam latihan. Perbuatan semacam itu bagi diri saya hanya akan merusak diri saya sendiri dan menunjukkan sikap tidak hormat kepada guru. Jika saya mengangkat lengan uke dalam tai no henko, dia dapat sekedar melanjutkan gerakan tersebut dan mengayunkan tangannya ke arah muka saya untuk melempar jatuh saya jatuh.

Selanjutnya adalah kisah nyata yang terjadi di Iwama Dojo bertahun-tahun yang lalu. Saya sedang berlatih dengan seorang partner yang kuat. Dia selalu menggunakan pengetahuan sebelumnya tentang teknik yang sedang dilatih untuk menahan gerakan saya. Hal ini tentu menyebabkan saya frustrasi. Untuk meresponnya, saya beralih untuk menahan tekniknya dengan cara yang sama, tetapi hanya sekali untuk memberi tahunya. Tetapi dia terus melanjutkan untuk menghentikan saya dan sejak itu saya tidak mau lagi melanjutkan hingga kelas berakhir dan bersumpah tidak akan latihan lagi dengannya.

Saya tahu bahwa Saito Sensei melihat kami melakukan hal tersebut, dan saya melihat beliau menjadi kecewa dalam pandangan saya. Akhirnya Sensei berteriak, “Dame! So iu kudaranai keiko yamero!” (Hentikan latihan bodoh itu!). Kami semua duduk ketika Sensei marah pada partner saya tadi. Beliau menjelaskan bahwa semua orang bisa menahan teknik seseorang jika mereka mengetahui sebelumnya apa yang direncanakan. Latihan semacam ini benar-benar merusak tujuan berlatih dan tidak ada yang bisa berkembang dengan latihan semacam ini. Sensei kemudian melarang partner saya tadi dari latihan di dojo. Orang itu benar-benar terhina dan seketika itu meninggalkan dojo dengan kepala tertunduk.

Sensei pada akhirnya memperbolehkan orang tadi kembali setelah sekitar sebulan. Setelah kejadian itu, dia berlatih dengan cara terhormat dan menjadi murid teladan. Saya berlatih dengannya beberapa kali setelah itu dan menjadi latihan yang menyenangkan. Dia kemudian mendirikan dojo-nya sendiri dan masih aktif hingga sekarang.

Persilakan saya memberikan satu contoh lagi yang tertulis dalam sejarah aikido. Cerita adalah cerita jenaka yang menunjukkan seseorang yang tidak “sunao.” Hal ini terjadi pada Profesor Kenzo Futaki yang terkenal, salah satu murid berbakti dari Morihei Ueshiba selama masa Kobukan Dojo pada tahun 1930-an. Futaki Sensei dikenal sebagai “Dr. Nasi Merah” Karena diet makrobiotiknya yang ketat.

Suatu hari Profesor Futaki berkata pada Ueshiba Sensei, “Sensei, saya akan menyerang Anda dengan bokken. Bisakah Anda lepas dari serangan saya?” Sensei dengan tersenyum menjawab, “kapanpun.” Ketika professor menyerang Sensei dari depan sepanjang demonstrasi, Sensei selalu menghindar ke kiri, beliau mengantisipasinya dan memutuskan menyerang ke arah Sensei menghindar . Pada akhirnya serangan Proffesor Futaki kembali gagal mengenai Sensei lagi, karena Sensei tidak bergerak. Sang profesor akhirnya mengakui kekalahannya.

Ketika Profesor Futaki menanyakan Sensei bagaimana beliau bisa mengetahui arah serangannya, beliau menjawab, “Pikiranmu telah mengarah ke kanan. Tubuhmu yang kosong semangat membuat serangan itu menjadi lambat!”

(Dari “An Aikido Life – Bab 8” oleh Gozo Shioda)

Dalam kasus ini juga, sang profesor yang bingung, yakin bahwa beliau bisa mengecoh Ueshiba Sensei karena beliau berpikir gerakan selanjutnya sudah terprediksi. Namun Kaisho benar-benar cerdik dan merasakan tipuan itu. Dr. Futaki tidak “sunao” ketika menyerang dengan bokken pada saat itu.

Saya akan mengakhiri tulisan ini dengan sebuah contoh lain bagaimana kurangnya semangat kejujuran dalam latihan mengarah pada berakhirnya karir dua orang dalam aikido. Pada perjalanan saya ke Jepang pertama kali ada dua orang asing yang sering berlatih dan bergaul bersama. Keduanya sudah berperingkat nidan pada saat itu. Mereka sering terlihat berlatih bersama setelah kelas selesai.

Bertahun-tahun kemudian, Saya kebetulan bertanya pada seorang mutual friend apa yang terjadi pada kedua orang tersebut karena saya sudah lama tidak melihat atau mendengar berita tentang mereka sejak lama. Dia berkata bahwa keduanya berhenti latihan aikido sama sekali karena rasa frustrasi mereka tidak mampu menjadikan teknik antar keduanya berhasil, mereka sama sekali tidak memahami pentingnya berlatih jujur sebagai jalan mengembangkan kemampuan aikido yang baik.

Saya merasa bahwa penting bagi para guru untuk memahami kesalahpahaman ini dan secara teratur menjelaskan kepada para murid mengapa perkembangan masa depan mereka tergantung pada mengadopsi pikiran terbuka dan jujur dalam latihan, yang orang Jepang sebut sebagai “sunao na kokoro.”

Sumber:

Pranin, Stanley. 2013. Sunao – Being Honest in Training   http://blog.aikidojournal.com /2013/03//14/sunao-being-honest-in-training-by-stanley-pranin. Retrieved 2014-02-01

One thought on “Sunao – Jujur Dalam Berlatih

Leave a Comment

Connect with Facebook